Oleh: cahayapelangi | Mei 14, 2010

Sekarang Jadi Presiden Paling Enak

Jakarta 7/6/2009: Sekarang jadi presiden itu paling enak, bisa berbuat semaunya dan tidak harus mempertanggungjawabkannya kepada MPR. Lain dengan dulu. Kalau dulu sebelum habis masa jabatannya harus dipertanggungjawabkan kepada MPR, sekarang tidak. Jadi salah atau tidak, begitu saja seenaknya, bisa bagi-bagi uang tunai langsung seenaknya.

Pengusaha nasional H. Probosutejo mengemukakan hal itu kepada Berita Indonesia (Jumat 12/6/09) di rumah kediamannya Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Sekarang ini, kata Probo, seakan-akan presidennya baik sekali membagi-bagi duit yang dinamakan dengan BLT atau bantuan langsung tunai, Rp 100.000 tiap bulan kepada 19 juta kepala keluarga, dibagi-bagi uang saja.

“Uangnya pemerintah, bukan uangnya Presiden Yudhoyono sendiri. Dibagi-bagi tetapi tidak dipertanggungjawabkan kepada MPR. Uangnya dari mana tidak ditanyakan, ngak ada yang tanya, DPRnya juga ngak bertanya, MPR juga tidak bertanya. Asalnya uang darimana koq segitu banyak dibagi-bagi saja, ternyata pinjaman. Ternyata pinjamannya juga pinjaman komersil dengan bunga yang tinggi sampai 12%. Tapi pinjaman itu siapa yang bayar? Yang bayar kan rakyat,” kata adik kandung satu ibu Pak Harto itu.

Berikut ini petikan pandangan Probosutejo tentang berbagai hal, di antaranya, tidak adanya GBHN, tidak adanya pertanggungjawaban presiden, BLT dan utang untuk makan, ekonomi kerakyatan dan neolib, serta HTI (hutan tanaman industri). Menurutnya, jika kondisi demikian terus, Indonesia bisa bangkrut.

***

Reformasi itu berlebihan sehingga pertanggungan jawaban presidenpun tidak ada. Rencana pembangunan tidak ada, GBHN juga tidak ada. Setelah menghabiskan uang begitu banyak, bagaimana cara mempertanggungjawabkannya juga tidak ada. Pada masa Megawati juga begitu.

Nah, kalau jamannya Kak Harto dulu ada pinjaman luar negeri tapi, untuk membangun infrastruktur untuk membangun waduk-waduk air, irigasi sawah meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan pekerjaan. Itulah ekonomi kerakyatan yang sesuai dengan UUD 1945. Di situ disebutkan ekonomi disusun sebagai usaha bersama. Yang paling cocok waktu dulu itu adalah koperasi dan itu tidak jalan sama sekali sekarang. Sekarang malah sudah berlaku neoliberal.

Neoliberal, pengusaha-pengusaha asing boleh masuk Indonesia, boleh bersaing dengan pengusaha-pengusaha kecil. Seperti bank-bank asing, kalau jamannya Pak Harto tidak boleh, hanya boleh di Jakarta saja. Sekarang di tiap-tiap daerah provinsi bahkan kabupaten sudah buka City Bank dan bank-bank asing yang lain.

Sekarang itu kita betul-betul sedang melakukan neoliberal. Jadi kalau Budiono ngak senang dikatakan neoliberal, sebenarnya SBY yang sedang melakukan neoliberal. Pengusaha asing boleh masuk ke Indonesia dengan bebas. Contohnya, Carrefour di mana-mana, bangunannya yang begitu megah. Dan di sana dijual dari yang terbesar-besar sampai yang terkecil-kecil, sampai lengkuas, serei pun ada di jual di situ. Bagaimana pengusaha kecil, pengusaha pribumi mau bersaing dengan itu, itukan neoliberal?

Belum lagi dengan pendidikan, sekolah asing diperbolehkan buka di Indonesia. Terus biaya pendidikannya mahal. Jadi nasionalismenya itu sudah ngak ada. Itulah akibat reformasi yang bukan kebablasan tapi memang tidak punya program.

Reformasi itu dulunya tidak direncanakan. Sampai mengobrak-abrik Undang-Undang Dasar. Coba, di negara mana pun tetap ada GBHN, kerakyatan. Kecuali kalau negara maju, di situ ngak ada GBHN, Amerika barangkali ngak ada, Inggris, Eropa ngak ada. Tapi kalau negara Rusia dan China sekarang masih ada. Nah, Indonesia ini sekarang GBHN sudah tidak ada. Begitu jadi presiden, diangkat jadi presiden langsung kerja. Kerjanya apa ya, sesuka hati.

Pak Harto, Kasar
Dulu dalam sidang kabinet Soeharto, pernah ada yang mengusulkan dana pinjaman yang hanya untuk memberi makan. Lalu bagaimana jawaban Pak Harto, kasar. “Kalau kita minjam-minjam untuk bikin tai saja akan percuma, harus digunakan untuk hal yang produktif atau infrastruktur. Sehingga nanti kita harus bisa kembalikan,” kata Pak Harto.

Jadi pinjam dari luar negeri boleh, tapi harus produktif, bukan konsumtif, dan dipertanggungjawabkan. Tidak bisa asal begitu, harus bisa kita pertanggungjawabkan semua. Nah, sekarang BLT itu disuruh makan-makan saja sama 19 juta keluarga.

Dulu ada pinjaman usaha kecil dan menengah (UKM), tetapi dipertanggungjawabkan kembali, tidak sama sekali habis begitu saja. Padahal kita diajarkan untuk memberikan sesuatu kail kepada orang miskin, orang yang minta-minta itu tidak boleh.

Tidak tahu siapa yang berani bisa mengembalikan kepada ekonomi kerakyatan di antara calon presiden saat ini. Kalau Yudhoyono terang ngak ada. Jadi kalau sampai presidennya Yudhoyono makin parah lagi, utangnya Indonesia ini. Sekarang utang pemerintah sudah Rp.17.000 triliun, tiap orang Indonesia menanggung kira-kira Rp.12. Utang itu pun berbunga komersial sampai 12-13 persen, bukan pinjaman lunak yang berbunga 6 persen.

Lalu, biarpun begitu, presiden tidak mempertanggung jawabkan itu. Itulah enaknya jadi presiden sekarang. MPR tidak tanya darimana uangnya yang dibagi-bagi itu. Sekarang DPR menerima laporan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang tidak ada undang-undangnya bahwa presiden harus mempertanggungjawabkan. Jadi seenaknya saja, DPR juga tidak mempertanggungjawabkan, tidak ada yang mempertanggungjawabkan. Anggota DPR juga sia-sia, cuma mengontrol tapi tidak ada sanksinya. Presidennya juga begitu.

Saat ini MPR sudah tidak mempunyai kuasa. Sudah diamandemen semua. Jadi kalau presiden sudah habis waktunya ya begitu saja. Padalah habis-habisin uang. Negara ini lama kelamaan bangkrut betul. Kalau presiden yang gelagatnya seperti itu bisa bangkrut nanti. Habis dimakan semuanya. Pembangunan tidak ada. Padahal kalau bantuan liqiuditas yang terakhir Rp 70 triliun, digunakan untuk membangun hutan yang rusak dan yang tidak produktif, seperti yang saya lakukan itu sampai-sampai saya dipenjara, itu paling tidak bisa membangun sepuluh juta hektar.

Satu hektar itu membutuhkan tujuh juta biayanya jadi bisa sampai sepuluh. Jadi sepuluh juta hektar tiap tahun, dari sepuluh juta hektar yang dibuka, diratakan dengan traktor, lalu diolah, itu bisa menghasilkan apa saja. Bisa menghasilkan padi, singkong untuk tapioka, jagung, kacang, kedelai. Sudah Indonesia bisa berlebihan hasil bumi, dan bisa diekspor, jadi ada hasilnya. Tapi sekarang tidak ada pemikiran begitu. Jadi kasihan rakyat kecil, rakyat miskin.

Jadi betul-betul kalau begini caranya memerintah, seperti sekarang yang kelihatannya dianggap baik, dan dalam tempo lima tahun lagi nanti yang menggantikan begitu juga, Indonesia bisa jadi habis, bangkrut.

Jadi kalau mau negara ini berlanjut, kembali ke UUD 1945, memikirkan nasib rakyat. Jadi semuanya kerjasama, seluruh rakyat Indonesia membangun ekonomi bangsa, tidak memikirkan diri sendiri.

Neolib, Bukan Ekonomi Saja
Keuangan jaman sekarang ini, yang pertama yang paling untung itu adalah dari minyak. Jamannya Pak Harto, tidak mau naikkan harga minyak karena rakyat memerlukan minyak tanah untuk masak. Nah, sekarang minyak itu dinaikkan dengan harga yang tinggi, tidak peduli rakyat bisa beli atau tidak. Harganya sama dengan harga minyak di Amerika. Dulu harganya separuh dari harga minyak Amerika. Uangnya juga ke mana tidak ada pertanggungjawaban. Ngak ada keharusan untuk mempertanggungjawabkan. Presiden tidak mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya.

Padahal, dulu dalam Undang-Undang Dasar 1945, sebelum diamandemen, presiden harus mempertanggungjawabkan kepada MPR. Kalau pertanggungjawaban diterima MPR, kemudian baru bisa dicalonkan lagi. Sekarang ini tidak mempertanggungjawabkan. Rakyat juga diatur masah bodoh.

Saat ini neoliberal bukan hanya ekonomi saja, pendidikan juga termasuk neoliberal. Jadi sudah jalan. Jadi kalau orang ketakutan Budiono adalah orang neoliberalis, sebenarnya sudah jalan sekarang, pemerintah sudah menjalankan itu. Pengusaha-pengusaha asing, pengusaha besar menguasai perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Seharusnya pusat-pusat perbelanjaan seperti Carrefour tidak diperbolehkan, kalau tidak mau dikatakan neoliberal. Kalaupun sudah terlanjur, mereka itu (Carrefour dan sejenisnya) harus dapat menerima barang-barang bikinan rakyat dan harus dibayar kontan, jangan konsinyasi yang berarti modalnya dari rakyat. Seperti misalnya, beli cabe, sekarang umumnya konsinyasi. Konsinyasi dibayar kemudian, satu bulan. Kalau begini, rakyat yang memodali Carrefour.

Padahal seharusnya, Carrefour memodali rakyat untuk menanam dan hasilnya harus dibeli Carrefour dengan harga pantas. Begitu pula Indofood, rakyat disuruh menanam, ada kentang dan cabe, dibiayai dan hasilnya dijual sama Indofood.

Air juga sekarang sudah dikuasai Prancis. Padahal dengan Aqua itu bisa menghasilkan uang yang luar biasa. Jadi sumber daya alam yang bisa menghidupi rakyat banyak itu mesti dikuasai oleh pemerintah untuk keperluan rakyat sebanyak-banyaknya, tapi sekarang sudah dikuasai asing. Tidak lagi sesuai dengan UUD 1945, dan tekad kemerdekaan.

Jadi kalau Indonesia ini mau bersatu terus, menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), ekonomi kerakyatan harus dijalankan. Tanpa itu, suatu ketika, tinggal menunggu waktunya saja, bisa bangkrut.

Sekarang bagaimana mau jalankan koperasi, ada Carrefour, Giant, Hypermart dan macam-macam. Persaingannya terlalu berat. Mestinya seperti Carrefour dan Giant itu kerjasama sama petani dan koperasi mesti diharuskan. Nah, undang-undangnya bagaimana. Jadi semuanya harus melakukan itu, baru orang miskin itu tertolong.

Kalau seperti sekarang, kemiskinan akan tidak teratasi. Apalagi dengan cara kasih BLT itu, jadi manja. BLT itu sama saja melestarikan kemiskinan. Ya, miskin terus. Ngapain kerja, nanti terima tiap bulan Rp 100.000. Dan uang seratus itu memang untuk di desa-desa besar sekali.

Hutan Tanamanan Industri
Tetapi sebenarnya, Indonesia kalau mau bangkit ekonominya, harus memanfaatkan tanah-tanah yang sudah tidak produktif, luasnya 60 juta hektar. Dulu, tahun 1998, waktu Menteri Kehutanannya Jamaluddin, yang sudah tidak produktif itu sebanyak 57 juta hektar, jadi sekarang itu kira-kira paling sedikit 60 juta hektar. Itulah yang bisa segera dikerjakan.

Untuk membangun hutan yang rusak menjadi kebun kepala sawit atau karet dan sebagainya, uang senilai BLT saja sudah cukup, lebih dari cukup. Bahkan kalau pinjam dengan dana komersil juga bisa kembali. Pinjam saja sama China. China kan uangnya sangat banyak, sekarang uangnya US$1.7 triliun.

Nah, caranya mengolah datangkan traktor. Sekarang mau beli traktor 10.000 juga tidak sulit dari Jepang dari Korea. Hutan yang rusak dan tidak produktif kalau diolah dengan cara menggunakan mesin-mesin modern, biayanya rendah. Nah, supaya biayanya rendah, tenaga kerjanya, selain penduduk setempat, diambil dari TNI. TNI itu tidak ada kerjaannya, suruh kerja itu, menjalankan traktor mengolah tanah ditanami padi, singkong, jagung, hasilnya banyak, kelebihan. Nah, hasilnya bisa diekspor dengan harga murah, bersaing. Sebab dengan harga murah pun sudah untung.

Langsung TNI suruh jalankan traktor, itu dwi fungsi. Jadi orang tidak iri lagi, kalau mau jalankan traktor ya silahkan. Dulukan iri karena (TNI) ada yang jadi gubernur, bupati dan sebagainya. Tapi waktu itu menjadi gubernur, bupati memang untuk menjadi stabilitas keamanan dan kenyataanya bisa tertib.

Sekarang jalankan traktor saja. Nanti kalau hari minggu latihan perang di situ, bikin barak-barak di situ. Tentaranya jadi tentara modern juga, ada hasil, jadi bisa beli pesawat terbang, bisa beli macam-macam. Bisa jadi contoh, dunia nanti akan bisa melihat Indonesia itu luar biasa (dan bersatu dengan rakyat). Nanti dari pemanasan global akan terkagum sama Indonesia. Kesejahteraan prajurit naik dan negara mendapat devisa.

Indonesia mempunyai tenaga banyak, orang-orang yang kerja ke Malaysia bisa kembali semua. Tidak seperti sekarang ini, pemerintah tidak punya rasa malu sama sekali. Punya rakyat yang kerja di negara asing dan sering-sering menderita.

Untuk segera membangun hutan yang rusak dan tidak produktif diperlukan sekitar 10.000 traktor. Dibagi-bagi untuk Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Riau, Jambi dan lain-lain. Jadi dibagi-bagi, tiap-tiap provinsi itu seribu. Dengan cara begitu maka pengelolahannya akan lancar sekali. Dan tanahnya subur, tidak usah dipupuk saja tanah Indonesia ini sudah subur. Apa saja ditanam bisa hidup. Jadi kalau mau bekerja betul-betul pasti bisa.

Sekarang ini dunia sangat kekurangan bahan baku kertas. Padahal, Indonesia sangat kaya bahan bakunya, apalagi bila hutan tanaman indudtri (HTI) dikembangkan. Jadi pasti bisa menghasilkan devisa yang banyak.

Tapi, malah saya dipenjara karena HTI. Sebenarnya saya tidak salah, cuma karena orang yang tidak mengerti makanya saya dipenjara. Jadi sebenarnya, HTI penghasil bahan baku kertas itu luar biasa masa depannya. HTI di Indonesia, lima tahun sudah bisa ditebang, sudah menghasilkan. Sementara kalau di China paling tidak ditanam 40 tahun baru bisa ditebang. Eropa malah 80 tahun. Demikian Probosutejo.

sumber>>//Tokohindonesia.com


Responses

  1. Betul Pak, jadi presiden sekarang ini enak seperti yang Bapak katakan. Tapi nanti diakhirat, sulit mencari siksa yang melebihi beratnya melebihi orang yang kafir, penyembah uang, penyembah jabatan, mengkhianati rakyat. Dan bukan hanya presiden saja, temasuk juga pemimpin pemimpin yang khianat, korupsi, memusuhi Islam, atau menjegalnya.

  2. Seharusnya kembali kemukadimah dan UUD 1945 tertanggal 22 Juni 1945 atau setidaknya tertanggal 18 Agustus1945. MPR diaktifkan dan tatanan hukum dibenahi secara benar berdasarkan landasan yg benar dan kewajiban melasanakan syariah Islam bagi pemeluknya. Kebenaran itu Allah dan ajarannya adalah landasan yg benar. dgn demikian kita mengarahkan Pemerintahan dan Rakyatnya kepada kebenaran yg insya Allah membawa kepada kemakmuran yg berkeadilan dan kejayaan NKRI Raya. Amin

    • klo ini aku setuju pak Arifin…karena mukadimah tgl 22 juni 1945 tanpa menghilangkan satu ayat yg berbunyi;melaksanakan syariat isalm bagi pemeluknya karena ini kesepakatan bersama oleh para pejuang….tdk seperti sekarang kejadiannya karena pejuang islam sangat dikecewakan atau merasa dihianati oleh RI karena telah dihapusnya ayat tersebut…tdk heranlah klo sekarang banyak yg menegakkan negara islam karena itu kewajiban bagi umat islam/kafah keseluruhannya….
      sehingga menjadi “Negara Kaya Rahmat Ilahi”(NKRI)

  3. Tiga pilar muslimin, yi Iman itu aqidah, Islam itu syariah, Ihsan itu amalan shalihan dan akhlakul karimah. Setiap muslim atau orang Islam wajib melaksanakan syariah dan amalan shalihan dan akhlaqul karimah secara utuh dan penuh, semaksimal bisa ilaksanakan. Thalab ilmu dan taat taqwa kepada Allah SWT. Insya Allah NKRI Raya dan Rakyatnya akan makmur dan jaya.Amin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: