Oleh: cahayapelangi | Juli 13, 2010

Belajarlah & membacalah selalu

Menuntut ilmu adalah takwa…
Menyampaikan Ilmu adalah ibadah…
Mengulang-ngulang Ilmu adalah zikir…
Mencari Ilmu adalah jihad….
(Al-ghajali)

Dalam Islam sebenarnya kegiatan membaca sudah sejak belasan abad silam dikumandangkan kitab suci Al Qur’an, sebagaimana firman Allah berikut :

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam”. (QS.96:3,-4)

“Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi pria dan wanita.Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.”

Tidak dapat dimungkiri, satu-satunya ciri khas yang membedakan manusia dengan hewan ialah tertelak pada kemampuan proses pembelajarannya dalam menyiasati dan menyikapi kehidupannya. Itu sebabnya dari zaman purba hingga zaman modern sejarah dan perkembangan dunia hewan tidak ada perubahan sama sekali.Dengan kata lain, sekali sapi akan tetap sapi dan tidak pernah memberontak atau demonstrasi meski susunya diperas setiap hari dan tenaganya dipakai membajak sawah setiap hari.Saking rendahnya derajat dan martabat manusia yang tidak mau belajar sesuai fitrah dan kodrat kemanusiaanya maka tidak berlebihan jika Allah berfirman :

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya.” (QS54:44)

“Sesungguhnya makhluk yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang yang pekak dan tuli yang tidak mendengar apa pun.(QS.8:22)

Meski Allah telah menyindir tentang betapa rendahnya derajat manusia yang tidak mau belajar, namun dalam realitasnya banyak saja orang yang tidak tergerak hatinya memaksimalkan organ otak yang merupakan anugerah terbesar Tuhan itu. Dan perlu diinsafi, bahwa makna pengertian belajar itu sendiri bukanlah harus duduk dibangku pendidikan formal saja, sebenarnya alam dan kehidupan ini adalah sekolah yang tidak pernah habis-habisnya untuk dipelajari.Karena samudera ilmu pengetahuan itu sangat luas sekali dan tidak terhingga banyaknya, semakin banyak yang kita ketahui sebenarnya jauh lebih banyak lagi yang belum kita ketahui.Dan langkah awal untuk masuk ke dimensi pengetahuan itu sendiri ialah bahwa kita harus tahu bahwa kita memang belum tahu.Maka itu, kita bisa belajar pada siapa dan apa saja, pada tukang beca, pengemis, pengamen, perampok, anjing, kucing, semut, lebah,air, agin, padi, beringin dan banyak lainnya.

“Maka berpikirlah wahai orang yang berakal budi.” (QS.54:23)

“Apakah mereka tidak memikirkan segala kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah”. (QS.7:185)

“Apakah mereka tidak memperhatikan onta bagaimana ia diciptakan, serta langit bagaimana ia ditinggikan, dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan.” (QS.88:17)

Bagi kita yang kebetulan tidak mampu melanjutkan studi yang lebih tinggi tidaklah bukan berarti kita tidak memiliki kewajiban untuk belajar sama sekali, bukankah Nabi telah mengingatkan:

“Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi pria dan wanita.Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.”

“Secercah pengetahuan yang dipelajari dini hari lebih baik daripada shalat seratus rakaat.”

“Siapa yang mengembara untuk mencari ilmu adalah ia sedang mengembara di sepanjang lintasan menuju surga.”

Menyadari bahwa proses pembelajaran itu tidak harus duduk di pendidikan formal maka dengan demikian proses pembelajaran tersebut sebenarnya dapat dilakukan di mana dan kapan saja.Pendek kata, di halte, di sawah, di jalan, di halte, di kaki lima, di lokalisasi, di pantai, bahkan di dalam ruang WC sekali pun proses pembelajaran bisa dilalukan. Tidak berlebihan jika Gobind Vashdev,penulis buku Happines Inside berkata,” Jadikan setiap orang menjadi guru,setiap tempat menjadi sekolah dan setiap jam adalah jam pelajaran.

Satu-satunya solusi agar kita tidak ketinggalan zaman,maka tidak bisa tidak kita harus senantiasa belajar agar bisa mengantisipasi perubahan zaman terus terjadi.Jika tidak, maka kita tidak ubahnya bagaikan manusia purba (jadul) yang gamang dan grogi ketika harus berhadapan dengan berbagai temuan produk teknologi canggih. Sekali lagi, betapa pun juga proses pembelajaran itu harus disikapi setiap hari, sebagaimana pesan orang-orang bijak berikut ini:

“Dunia adalah sekolah, maka proses belajar harus berlangsung sepanjang hidup. (Comenius)

“Esensi belajar ialah mempelajari bagaimana cara belajar. Sekali Anda berhenti belajar Anda akan memasuki proses kamatian.”(Ronald Graham)

“Mereka yang buta huruf di abad 21 bukanlah orang-orang yang tidak bisa membaca atau menulis, tapi mereka kaum terpelajar yang tidak mau belajar kembali dan melupakan ajaran-ajaran masa lalu.”
(Alfin Toffler)

Di tengah derasnya arus informasi, aktifitas membaca adalah “windows of the world” dalam memahami segala perubahan dan perkembangan informasi dan teknologi yang terjadi. Hanya dengan membacalah kita bisa menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.Adanya ungkapan yang mengatakan bahwa “siapa yang menguasai informasi maka merekalah yang menguasai dunia”, dan ungkapan yang mengatakan “apa yang kita baca sekarang, seperti itulah kita 20 tahun yang akan datang”, adalah suatu hal tidak terbantahkan.

Majunya negara-negara seperti Amerika, Jepang, Korea, Cina, Malaysia dan lain sebagainya adalah berkat dipelopori tingginya minat baca masyarakatnya dalam menguasai informasi, yang akhirnya mengantarkan mereka pada pencapain penguasaan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, dan mampu menciptakan produk-produk teknologi baru yang dibutuhkan masyarakat dunia modern sekarang ini.

Dalam Islam sebenarnya kegiatan membaca sudah sejak belasan abad silam dikumandangkan kitab suci Al Qur’an, sebagaimana firman Allah berikut :

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam”. (QS.96:3,-4)

Kalimat imbauan membaca dalam firman Allah di atas tentulah tidak sekadar membaca yang tersurat saja, tetapi membaca yang tersirat, yakni dengan melakukan berbagai penelitian,pengkajian atau riset ilmiah dan sebagainya terhadap fenomena alam dan sosial yang ada di sekitar kita.

Dalam kitab suci Al Qur’am ada sekitar 750 ayan (1/8 dari isi kitab suci Al Qur’an) yang mengimbau orang untuk berfikir, merenung dan menjadikan “olah otak” sebagai aktifitas yang terpisahkan dalam hidup keseharian.Boleh dibilang tidak ada kitab suci agama lain yang memberi porsi begitu besar terhadap kegiatan berpikir itu.Kitab Weda, kitab agama Hindu misalnya, sebagian besar isinya adalah sekumpulan doa’,himne atau kisah-kisah alegori yang menceritakan mitos para dewa dan para pahlawan Hindu.Naskah Kanonik, kitab suci agama Budha sebagian besar isinya menceritakan sejarah kehidupan Sidhart Gautama yang penuh dengan mitos-mitos.Kojiki, Nihongi dan Yengishi, kitab suci agama Jepang, sebagian besar isinya menceritakan adat-istiadat kebudayaan Jepang yang syarat dengan jimat-jimat.Al Kitab (ajaran Paulus) kitab sucinya agama Kristen sebagian besar isinya menceritakan mitos-mitos Yunani zaman dahulu.

Dari sekian banyak ayat-ayat kitab Suci Al Qur’an yang menganjurkan betapa pentingnya makna esensi berpikir tersebut antara lain:

“Apakah mereka tidak memikirkan segala kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah.” (QS.7:185)

“Apakah mereka tidak memperhatikan onta, bagaimana ia diciptakan, serta langit, bagaimana ia ditinggikan,dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan.” (QS.88:17)

“Dan pada bumi ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin dan juga pada dirimu sendiri.Maka apakah kamu belum memperhatikannya.” (QS.51:21-22)

“Maka berpikirlah wahai orang yang berakal budi.” (QS4:23)

Dan Nabi juga bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi pria dan wanita.”

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.”

Mempelajari sepatah kata ilmu lebih baik daripada mengerjakan shalat seratus rakaat.”

Sejarah pernah mencatat bahwa pada zaman kekhalifahan Abbasyiah dunia Islam pernah mengalami masa kejayaan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Semua kejayaan dan kemajuan zaman Abbasyiah itu adalah berkat dipelopori tokoh-tokoh pemikir muslim yang pada masa itu sangat antusias mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, sehingga pada masa itu banyak orang-orang Eropa yang belajar untuk menuntut ilmu di berbagai cabang pengetahuan dari para tokoh-tokoh pemikir besar muslim.

Betapa pun juga sejarah kejayaan muslim yang pernah diraih belasan abad silam bukan hanya sekadar untuk dikenang dan penghias lembaran sejarah dunia saja, tetapi bisa dijadikan cemeti agar umat muslim bisa mengulang kembali kejayaan tersebut yakni dengan semangat “iqra” yang tinggi dalam menguasai ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah disikapi tokoh-tokoh pemikir besar muslim terdahulu.

Bagi kita selama ini kurang menghargai pentingnya esensi membaca bagi pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan dan kebijaksanaan kita, semoga kata-kata bijak berikut ini bisa memotivasi diri kita agar lebih rajin lagi membaca buku :

“Saya pilih menjadi orang miskin yang tinggal di pondok penuh buku daripada menjadi raja yang tak punya hasrat untuk membaca.”(Thomas Babington Macaulay)

“Selayaknya setiap orang berpikir tetap menggunakan pakaian lama tetapi dapat membeli buku baru daripada bisa membeli pakaian baru tapi tidak dapat membaca buku baru (Austin Phelps)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: