Oleh: cahayapelangi | Desember 10, 2010

Al-Zaytun dan Masyarakat Cibanoang Bangun P4BI

 

AL_Zaytun, pusat pendidikan terpadu yang tak pernah tidur! Saban hari, siang dan malam, terus berkarya untuk membangun putra-putri bangsa Indonesia yang berpendidikan, bangsa yang kelak mampu bertoleransi dan bersikap damai dalam hidup dan kehidupannya. Memasuki usianya genap delapan tahun, dan bertepatan momentum Hari Kebangkitan Nasional 2007, Al-Zaytun melangkah melanjutkan karyanya membangkitkan semangat  Mmasyarakat Cibanoang, Mekarjaya, Gantar, Indramayu, Jawa Barat, untuk secara bersama membangun Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia (P4BI) di desa terpencil itu. Ditandai peletakan batu asas pembangunan P4BI tersebut, Sabtu, 19 Mei 2007.

Peletakkan batu asas pembangunan Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia (P4BI) itu dilakukan civitas akademika Al-Zaytun, dari santri, mahasiswa, guru, eksponen dan karyawan bersama-sama dengan masyarakat Cibanoang. Peletakan batu pertama bertambah istimewa, karena acara yang dilakukan di pelosok desa tersebut dihadiri oleh 11 wartawan dari Amerika, Malaysia, Vietnam dan Indonesia yang tergabung dalam East West Center (EWC). Rombongan yang dipimpin oleh Richard Baker ikut serta meletakan batu pertama P4BI yang rencana pembangunannya selesai dalam 31 hari.

Pembangunan P4BI ini merupakan realisasi janji Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang kepada Dirjen PLS (Pendidikan Luar Sekolah) Dr Ace Suryadi beberapa waktu yang lalu. Bangunan Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia yang akan dibangun ini berukuran 6 x 16 meter dilengkapi sarana olahraga, seperti lapangan basket dan sepakbola di atas lahan satu hektar. Rencananya gedung pertama ini akan diselesaikan dalam waktu satu bulan, dan akan diresmikan tanggal 23 Juni. Untuk itu karyawan Al-Zaytun bersama masyarakat Cibanoang bekerja siang dan malam untuk mewujudkannya. Pembangunan ini merupakan langkah awal dan nanti akan dibangun lagi dengan ukurannya lebih besar, untuk menampung kegiatan lainnya.

Syaykh Al-Zaytun memberikan kata sambutan saat peletakan batu asas pembangunan P4BI di Cibanoang

 

Dalam sambutannya, Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang mengatakan bahwa Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia yang akan dibangun merupakan pusat pendidikan untuk menciptakan  pembangunan bangsa. “Pembangunan bangsa yang berpendidikan dan mampu bertoleransi, bangsa yang mampu bersikap damai dalam hidup  dan kehidupannya,” ujar Syaykh AS Panji Gumilang dengan suara lantang.

“Kita mulai dari kampung yang sangat jauh dari kota, kampung yang tidak dipedulikan oleh banyak orang, tidak memiliki tempat pendidikan yang layak,” ujar Syaykh.

Asbab Al-nuzul dibangunnya P4BI di Cibanoang ini bermula dari keprihatinan Syaykh AS Panji Gumilang yang tiap pagi dan petang melewati daerah itu saat meninjau Proyek Ketahanan Terpadu  Pertanian Tanaman Pangan dan Hutan Tanaman Industri Al-Zaytun di Windu Kencana. Prihatin menyaksikan tempat belajar calon pemimpin bangsa Indonesia yang menyerupai kandang kambing.

“Sekolahmu tidak boleh dibangun di atas tanah seratus meter persegi, tidak boleh. Indonesia luas, sama dengan luasnya Amerika Serikat. Sekolahmu tidak boleh 100 meter persegi, sekolahmu minimal satu hektare,” kata Syaykh.

Cibanoang merupakan kampung yang sangat jauh dari kota, kampung yang tidak pernah dipedulikan banyak orang dan tidak memiliki tempat pendidikan yang layak. “Tempat mendidik calon pemimpin bangsa Indonesia yang tidak layak ini tidak bijak. Kita bukan bangsa yang besar kalau kita tidak memperhatikan pendidikan. Untuk itu masyarakat bersama-sama Al-Zaytun bertekad membangun pusat pendidikan ini untuk memajukan  bangsa melalui anak-anak muda,” ujar Syaykh Al-Zaytun. Untuk itu masyarakat Cibanoang bersama Al-Zaytun bertekad membangun pusat pendidikan ini untuk memajukan  bangsa Indonesia. Rakyat Cibanoang bangkit bersama masyarakat Al-Zaytun untuk membangun pendidikan. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya,” Syaykh Al-Zaytun mengutip lagu Indonesia Raya.

Masyarakat Bangga dan Bahagia

Suasana ruang belajar sebuah madrasah di Desa Cibanoang yang sudah tidak layak

 

Masyarakat Cibanoang menyambut antusias dan merasa bahagia dibangunnya P4BI ini. “Saya sangat bahagia sekali dengan dibangunnya sekolah di desa saya. Selama ini saya bersekolah jauh, jalannya rusak dan kalau hujan enggak bisa sekolah,” kata Andi Arianto, Kelas IV Madrasah Diniyah Awaliyah.

James O’Toole, Poliyics Editor Pittsburgh Post Gazette, juga memberikan apresiasi dengan dibangunnya P4BI. “Ini merupakan contoh yang baik dan positif dan sungguh sangat menarik, dan saya bangga ikut meletakkan batu pertama,” katanya.

P4BI telah memberi angin perubahan ke arah perbaikan kualitas pendidikan di Desa Cibanoang yang selama ini tak pernah tersentuh pembangunan pendidikan oleh pemimpin negaranya. Selama ini, anak-anak harus mengecap pendidikan dengan kondisi kelas yang tak ubahnya seperti kandang kambing. Berlantai tanah, dinding anyaman bambu yang sudah banyak yang hancur, atap berlobang yang jika musim hujan bocor. “Sekarang masyarakat bangkit, 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional, diawali oleh masyarakat Cibanoang membangun pusat pendidikan,” kata Syaykh. Dan, Cibanoang yang menurut Syaykh Al-Zaytun merupakan sungai yang bisa menghasilkan emas bisa tercipta. Tentu saja dengan pendidikan yang memadai.

Syaykh juga menyebut keistimewaan Cibanoang lantaran peletakan asas  itu dihadiri oleh wartawan dari Amerika Serikat. Syaykh memperkenalkan pimpinan rombongan Mr Richard, dari Amerika Serikat tapi bahasa Indonesianya lebih bagus dari pada masyarakat  Indonesia di Cibanoang.

Kepada rombongan wartawan yang tergabung dalam East West Center (EWC) Hawaii – Amerika Serikat, itu, Syaykh Al-Zaytun menjelaskan: “Ini namanya Cibanoang, sungai yang bisa menghasilkan emas. Banoang itu sebuah buah yang bisa menjadi emas. Tapi belum tersentuh oleh pembangunan pendidikan oleh  pimpinan negaranya. Sekarang masyarakat bangkit, besok tanggal 20 adalah hari kebangkitan nasional, diawali dari masyarakat Cibanoang membangun sebuah pusat pendidikan. Tidak terlalu besar, hanya seluas 6 x 16 meter di lahan 10 ribu meter. Dan ini tahap pertama, mudah-mudahan nanti Pak Richard datang lagi, dan akan kita bangun lagi, bangun lagi yang lebih besar.”

Syaykh berpesan, tolong sampaikan kepada bangsa Amerika, di Cibanoang ada sekolah yang baru dibangun karena tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintahnya. Dibangun oleh rakyat sendiri, buat rakyat Indonesia yang ada di sini.

Denah pembangunan Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia (P4BI)

 

“Kita buktikan bahwa masyarakat Cibanoang mampu membangun. Kita bangun 31 hari, alias satu bulan. Hari ini kita mulai, dan tanggal 23 Juni kita akan resmikan. Kita undang pemimpin-pemimpin supaya paham, di sini masyarakatnya sudah tidak sabar menunggu apa kebijakan yang akan diberikan oleh pemimpinnya, sehingga membangun sendiri,” urai Syaykh Al-Zaytun.

Syaykh menyampaikan rasa iba, haru dan bangga karena masyarakat Cibanoang mampu membangun. “Kami hanya mendatangkan tukang, kami hanya mendatangkan batu, tidak pakai uang membangun, sama sekali tidak menggunakan uang, tidak penting uang itu. Yang penting ada batu, batu ada pabriknya, batu bata ada pabriknya, semen ada pabriknya, kayu ada hutannya, genteng ada pabriknya, tidak laku uang itu. Apalagi masyarakat tidak dipungut uang sesen pun, hanya mengumpulkan padi 20 Kg untuk memberi makan tukang selama satu bulan,” jelas Syaykh.

Syaykh memaparkan bangsa berpendidikan itu maknanya bangsa yang akan punya masa depan, akan mampu menginjak masa depannya dengan baik. Bangsa yang pendidikannya kurang akan suram masa depannya. “Maka anak-anakku rebut pendidikan, rebut toleransi. Akan kita dirikan sekolah tingkat dasar, kemudian nanti tingkat menengah, kemudian tingkat menengah atas, kemudian perguruan tingginya ke Universitas Al-Zaytun,” katanya.

Salah satu gedung sekolah di Desa Cibanoang yang tak tersentuh pembangunan

Lalu, Syaykh bertanya: “Siapa yang membiayai sekolah ini nanti?” Dan kemudian dijawabnya sendiri: “Kita bangsa yang kuat, masyarakat yang kuat, yayasan pesantren Indonesia yang kuat, karena didukung oleh masyarakat. Jangan kahwatir biaya pendidikan, paling-paling kita cuma urunan. Tidak usah membayar, tapi urunan.” Bagaimana caranya? “Karena di sini punya padi, urun pakai padi, yang punya jagung urun pakai jagung, tidak punya jagung tidak punya padi, hanya punya tenaga urun tenaga, tidak punya tenaga urun doa,” jelas Syaykh, lalu mengajak segenap hadirin berdoa dan berbasmalah.

Setelah ini Syaykh memimpin membaca Asmau Al-Husna sebanyak 100 nama-nama Allah, Alhamdulilah, tepat pukul 14.00 kurang dua menit peletakan batu asas dilakukan. Syaykh mempersilakan wakil ketua YPI, H Imam Suprianto maju ke depan, sekertaris Yayasan Ustadz Abdul Halim memegang tabir dan menunggu komando, sesuai sirine yang berbunyi.

Kemudian mempersilakan para pelajar putra-putri, masyarakat pemuda putra-putri, kemudian orang tua putra-putri, dan masyarakat lainnya, disusul oleh pelajar Al-Zaytun, mahasiswa Al-Zaytun, dan masyarakat Al-Zaytun serta rombongan dari masyarakat jurnalis Amerika Serikat memasang batu pertama sebagai kenang-kenangan tempat pendidikan yang akan go public, go international, dan go global..

Sumber>>//beritaindonesia.co.id


Responses

  1. Indahnya kata2 dapat dirangkai..namun pelaksanaannya memang tak semudah membalikkan tangan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: