Oleh: cahayapelangi | Juni 27, 2011

DIN = Agama atau Daulah.. ???

Assalamualaikum wr।wb॥
Semoga kita selalu berada dalam lindungan-Nya amien।

Rekan-rekan semua yang saya cintai dan saya hormati, tujuan saya menulis ini adalah tiada lain dan tiada bukan yaitu untuk mengajak rekan-rekan semuanya untuk merubah cara pandang kebanyakan orang, khususnya orang Indonesia terhadap Islam itu sendiri.
Untuk menghindari kemungkinan adanya suatu peribadatan yang sia-sia, karena tujuan kita sesungguhnya adalah mencari kebahagiaan yang Hakiki bukan begitu??’’.

Baiklah akan saya mulai dengan satu permasalahan yang sangat mendasar mengenai Islam itu sendiri.
Pasti anda semua sudah terbiasa dengan kata “AGAMA ISLAM di banding dengan kata “DIENUL ISLAM”, namun perlu kita ketahui bahwasannya Islam adalah merupakan sebuah konsep yang Hakiki dari Allah SWT, agar konsep-Nya ini menjadi :

1. Hudalinas (petunjuk) bagi orang-orang yang beriman.
2. Bayinah (bukti) suatu pembuktian bahwa Islam adalah sebuah konsep yang akan menyejahterakan bumi beserta isinya.
3. AL-furqon (pembeda) , yang akhirnya dapat menjadi pembeda bagi umat manusia antara yang Haq dan yang Bathil.

Melihat kenyataan yang ada di dunia khususnya di Negara RI ini apakah ke tiga point di atas sudah menjadikan Alquran sebagai pembeda antara yang Haq dan yang bathiL ?, atau telah menjadi bukti bahwa Islam adalah sebuah konsep yang akan menyejahterakan Alam termasuk manusia? Jawaban dari kedua pertanyaan tadi belum sama sekali terealisasi, mengapa ? jangan2 Al-quran belum dijadikan kita sebagai petunjuk?, Logika nya bagaimana manusia bisa mencapai pada kesejahteraan kalau Alqur’an nya sendiri belum di jadikan sebagai petunjuk?, seperti ada seseorang yang ingin sampai ke sebuah setasiun, tapi dia sendiri tidak mengikuti petunjuk jalan yang ada?, kira2 bakal sampai tidak orang itu ke stasiun? Padahal si petunjuknya sudah dia pegang?..lucu ya !?!?, itu sebabnya di RI ini rakyat nya tidak sejahtera karena petunjuknya dari Allah Yang Maha Pemurah yaitu Al quran di sia-siakan, Naudzubillah.
Jika kita menyetujui yang namanya Islam adalah sebuah Konsep yang Mutlak kebenarannya
Tentunya sebuah konsep ini perlu yang namanya Roda-roda untuk menggerakan konsep tersebut hingga tercapai nya Rahmatan lil alamin..
Antara Roda-roda dan konsep itulah yang dinamakan system, seperti apa? Layaknya sebuah system yang menyangkut masalah sosial kemasyarakatan, contohnya yaitu Madinah dimana di Madinah itu sendiri ada yang namanya:

1. Khalifah (pemimpin) Rasulullah saw, yang terus berkesinambungan setelah beliau wafat, sampai Daulah yang terakhir Ustman di Turkey.
2. Umat (yang di pimpin) yaitu Umat Muslimin.
3. dan adanya sebuah wilayah atau territorial yastrib yang lebih popular namanya menjadi Madinah.

Ketiga Unsur di atas menjadi sangat penting peranannya dalam Mewujudkan Kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, ke adilan dan hal-hal baik lainnya yang di janjikan Al quran, maka ke tiga unsure tersebut di namakan DAULAH atau Rumah (atau tempat perlindungan),

Al- ankabuut (29 : 67) : “ Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah? “.

Menjadikan negeri mereka tanah suci yang aman, tentunya yang namanya sebuah negeri tidak terlepas dari ketiga unsur tadi yaitu pemimpin yang dipimpin dan teritori atau wilayah.

Ash shaff (61 : 4) :”Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, nah yang namanya barisan yang teratur tentunya ada komandonya donk??, yang di sebut juga pemimpin atau didalam daulah Islam sendiri di sebuti khalifah.

Jadi Intinya Islam sendiri memerlukan Daulah sebagai penggerak dari konsep tersebut.
Karena Allah menyukai orang yg berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur yang artinya Allah tidak menyukai orang islam yang berislam secara individual atau sendiri-sendiri, dengan seperti itu Islam sangat menjadi rapuh tidak ada kekuatan sama sekali.

Mari kita cermati mengenai kata “DIENUL ISLAM” yang oleh departemen agama RI diartikan menjadi agama Islam, karena kata “DIENUL ISLAM” sendiri jika terjadi kesalahan penafsiran ini akan menggelincirkan umat Islam pada kesesatan Naudzubillah, yang sekaligus membawanya ke Neraka djahanam.

Ali Imran (3:19) “ innadina innallahi Islam…..

Yang artinya “ sesungguhnya “Din” yang di ridhoi disisi Allah hanyalah Islam….”

Mari kita mengutip pendapat dari Ustad Abu Ala Maududi mengenai “Din” itu sendiri, Ingat-ingatkanlah kembali ketiga-tiga perkara ini :

Din berarti kepatuhan
Syari’ah disebut juga hukum.
Ibadat mengandungi arti penghambaan.

Apabila anda menghambakan dan menghinakan diri (sub-servience) kepada seseorang yang mengaku sebagai pemerintah anda, maka hal itu berarti anda telah menerima dinnya..
Setelah itu ia menjadi pemerintah (ruler) anda, dan anda menjadi rakyatnya (subject).
Perintah-perintah dan peraturan-peraturan yang dibuatnya menjadi hukum dan syari’ah bagi anda. Apabila anda memberikan kepadanya apa yang dimintanya, melaksanakan apa pun yang diperintahkannya, tidak melakukan apa yang dilarangnya, bekerja dalam batas-batas yang telah ditetapkan untuk anda, mengikuti arahan-arahannya,dan menerima keputusan-keputusannya yang bersangkutan dengan hubungan timbal-balik antara anda semua, urusan-urusan bisnis anda, perkara-perkara kehakiman dan hukuman anda… maka sikap anda separti itu dinamakan penghambaan atau ‘ibadat.

Dari penjelasan ini jelaslah bahwa “din” sesungguhnya adalah pemerintahan, atau pemerintahan sendiri di sebut juga dalam Islam Daulah, yang contohnya telah di realisasikan oleh Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik dan di tegakan hingga mendunia yaitu Madinah, tempat berdirinya system Allah yang didalamnya ada pemerintahan Islam.

JADI KESIMPULAN PERTAMA MENGENAI DINUL ISLAM SENDIRI YAITU DAULAH ISLAM/ PEMERINTAHAN ISLAM

LALU KESIMPULAN KEDUA MENGENAI DINUL ISLAM YANG DIARTIKAN OLEH DEPARTEMEN AGAMA RI YAITU AGAMA ISLAM.

Tibalah mengenai pembahasan kedua yaitu mengenai Dinul Islam yang di artikan menjadi agama islam.

Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Secara entomologis, agama berarti situasi yang tidak kacau, seperti kita ketahui bahwa sansekerta adalah bahasa klasik yang pernah di pakai di india, bahasa ini sudah arkais pada saat ini selain menjadi bahasa kitab umat hindu, maka dapat di simpulkan bahwa kata “agama” sendiri berasal dari bahasa hindu, kenyataannya antara ajaran Hindu dan Islam Itu bnyak berseberangan seperti adanya golongan2 atau kasta2, ada golongan yang lebih tinggi ada golongan yang lebih rendah pada ajaran Hindu sedangkan di Islam sendiri tidak mengenal akan hal itu, Islam mengajarkan semua manusia sama, yang membedakan tingkat ketaqwaannya saja

Seperti yang kita lihat kenyataan di Indonesia masalah sosial tidak terlepas dari pembunuhan, maksiat di mana2, aborsi, kriminalitas perjudian bahkan di Indonesia sendiri sering terjadi Orang tua memperkosa anaknya, sungguh suatu maksiat yang sudah layak membuat sang Penguasa Alam murka, dan sungguh Agama yang seharusnya membuat ketidak kacauan menjadi tidak berfungsi.

Jika dinul islam di artikan menjadi agama islam, saya sendiri merasa islam hanya menjadi sebatas kepercayaan, dimana urusannya hanya sebatas perasaan, yang akhirnya ruang geraknya terbatasi hanya masalah ritual (shalat lima waktu) dan puasa, sedangkan Alquran itu menyimpan hukum2, dan aturan yang harus di realisasikan, ada hukum ekonomi perdagangan ada hukum zinah ada hukum mengenai ketata negaraan, dan banyak lagi yang menyangkut masalah kehidupan dan sosial, nah mengapa hukum2 yang lain ini seperti tidak di ambil pusing oleh orang-orang yang beragama Islam di Indonesia seakan tidak di laksanakan pun santai2 saja?, padahal nilainya sama seperti hukum2 yang lain, kebanyakan tahunya shalat 5 waktu itu wajib padahal masih banyak hukum2 yang lainya yang juga wajib kenapa seperti diabaikan?, nah disinilah permasalahannya adanya persinggungan antara hukum Islam yang menyangkut masalah sosial kemasyarakatan dengan hukum yang ada di Indonesia itu sendiri yaitu UUD 45 dan nilai2 pancasila.
Salah satu contoh Islam mengajarkan Tauhid bahwa Tuhan itu satu, lalu pada butir pancasila sila pertama yaitu “KETUHANAN YANG MAHA ESA” sudah ada satu pertentangan dengan ajaran tauhid itu sendiri, dari kata “KETUHANAN” sendiri bersifat jamak yang artinya lebih dari satu atau terdiri dari berbagai macam tuhan, Naudzubillah bukan kah ini sudah membawa orang2 indonesia pada kemusyrikan??.

Jadi mengenai pengertian Dinul islam menjadi Agama Islam itu kurang tepat adanya, karena Rasulullah pun mengajarakan Islam itu ber-Daulah atau ber system,” seperti bangunan yang tersusun kokoh “ yang telah di contohkan oleh Rasulullah yaitu Madinah yang di dalamnya ada struktur pemerintahan Islam yang tertib teratur dan disiplin, Daulah inilah yang bisa dijadikan oleh umat islam sebagai sarana tempat pengabdian (ibadah) sepenuhnya(kaffah) karena hukumnya tidak bersinggungan dengan hukum2 atau ajaran2 di luar islam, itu sebabnya Rasulullah Hijrah ke yastrib dalam rangka pngingkaran tehadap din yang bathil yaitu mekah dimana hukum abu djahal yang bathil masih berkuasa.

Ali imran (3:112) “ Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (din) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan………..”

Dari ayat diatas jika “din” diartikan Agama jadinya ngga nyambung karena di agama islam sendiri tidak di kenal yang namanya perjanjian dengan manusia atau di sebut baiat, kebanyakan mereka beragama islam berdasarkan keturunan, karena orang tuanya agama islam otomatis keturunannya pun beragama islam, dan jika “din” pada ayat tersebut diartikan Daulah Islam atau Khilafah Islam ini akan tepat sekali karena adanya pemerintahan Islam yang berfungsi sebagai saksi pembaiatan orang2 yang beriman yang telah melaksanakan Hijrah, (pembaiatan itu hukumnya wajib bagi orang2 yang beriman yang memasuki(hijrah) pada daulah Islam, yang lalu menjadi umat islam), perlu di ketahui mana mungkin di sebut Umat jika tidak ada pemimpim(pemerintahan Islam), mana mungkin di sebut anak buah jika tidak ada boss??,
Mana mungkin di sebut rakyat jika tidak ada presiden??, begitu pun pentingnya Khalifah bagi umat islam yang harus menjalankan Hukum2 islam pada daulah Islam, dan Daulah itu sekaligus sebagai tempat menjalankan bentuk2 pengabdian umat islam secara kaffah, ibaratnya seperti kendaraannya umat islam hingga bisa membawa umat islam sampai RAHMATAN LIL ALAMIN.

AT taubah (9:20) ; “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan

Pada ayat diatas pun sudah jelas pentingnya Daulah Islam sebagai sarana orang2 beriman melaksanakan Hijrah (satu bentuk nyata menginkari system yang bathil) lalu menjadi umat islam setelah pembaiatan oleh pemerintahan Islam, lalu Umat Islam dapat berjihad (bersungguh – sungguh) mengabdi pada daulah Islam dengan harta dan dirinya, dan Allah berjanji meninggikan derajatnya dan mendapat kemenangan Insya Allah.

Kebutuhan mutlak Daulah Islam, tampak jelas untuk menerapkan syariah Islam yang berkaitan dengan ekonomi. Tentunya adalah wewenang daulahnya atau pemerintahannya untuk menerapkan mata uang apa yang berlaku di sebuah negara. Dalam daulah Khilafah Islam negara akan menetapkan mata uang yang berlaku adalah mata uang emas dan perak (dinar dan dirham). Bisa kita bayangkan kalau dalam satu negara banyak mata uang yang berlaku berdasarkan kelompok atau individu.

Penerapan syariah Islam oleh negara, bukan berarti bahwa negara Khilafah hanyalah untuk kelompok tertentu atau orang tertentu saja. Daulah Islam Madinah yang dipimpin oleh Rosulullah merupakan bukti yang gamblang. Saat itu meskipun yang berlaku adalah hukum Islam, masyarakat Madinah bukanlah homogen, hanya muslim saja. Disana terdapat orang Yahudi, Musyrik, dan berbagai kabilah. Bisa disebut sepanjang sejarah kekhilafahan yang menerapkan syariah Islam, tidak pernah ada masa dimana seluruh penduduknya memeluk Islam.

Khilafah Islam yang terbentang melintasi benua tentu akan mengumpulkan berbagai bangsa , warna kulit, agama dan keyakinan. Seperti yang disampaikan Carleton: Peradaban Islam merupakan peradaban terbesar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adi daya dunia (superstate) terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain; dari iklim utara hingga tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya , dengan perbedaan kepercayaan dan suku.

Hal ini gampang dipahami, sebab syariah Islam bukanlah hanya untuk orang Islam, tapi manusia. Islam sebagai rahmat lil ‘alamin, artinya Islam untuk seluruh manusia (lihat tafsir Fathul Qadhir). Karena itu , Daulah Khilafah saat menjalankan kebijakannya, tidaklah melihat suku, bangsa, atau agamanya. Siapapun mereka kalau menjadi warga negera daulah Khilafah akan dijamin terpenuhi kebutuhan pokoknya, dijamin pendidikan dan kesehatan gratis. Siapapun warga negaranya akan dijamin keamanannya oleh negara Khilafah. Warga non muslim pun dibolehkan beribadah menurut agamanya, makan, minum, dan menikah berdasarkan keyakinan agamanya. Namun, dalam masalah publik mereka harus tunduk kepada hukum negara yang berdasarkan syariah Islam.

Mengingat pentingnya Khilafah ini, wajar kemudian kalau ulama-ulama dan pemimpin umat Islam terdahulu segera bereaksi saat Khilafah Islam diruntuhkan tahun 1924. Pemimpin Syarikat Islam (SI ) HOS COKROAMINOTO mengatakan Khilafah adalah hak bersama muslimin bukan dominasi bangsa tertentu, karenanya, bila umat tidak memiliki Khilafah, seperti badan tidak berkepala .

Muslih Shobir menyatakan bahwa saat ini negera-negara Islam perlu bersatu membentuk khilafah. Agar umat Islam bersatu dan memiliki kepemimpinan untuk menyelesaikan problem di dunia.
kaum muslimin di seluruh dunia telah rindu akan kesejahteraanya dan mencari jalan menuju kebangkitan untuk mengembalikan Daulah Khilafah Islam. AS dan sekutu-sekutu imperialismenya sangat tahu persis, bahwa Daulah Khilafah itulah satu-satunya negara yang berkemampuan untuk meluluhlantakkan idoelogi Kapitalisme yang dipimpin oleh Amerika.
Maka tidaklah mengherankan kalau saat ini kita saksikan bagaimana para pejuangan penegak Syariat Islam dan Daulah Khilafah dihalangi dan ditindas. Mereka dituduh teroris, menggangu stabilitas, memecah belah. Padahal yang mereka perjuangankan adalah Islam yang akan menjamin kedamain dan keamanan bagi manusia . Di Uzbekistan dan belahan dunia lainnya , yang berjuang tanpa kekerasan, dituduh sebagai teroris. Bagaimana mungkin mereka dituduh teroris ?

Hilangnya sistem Khilafah berarti hilangnya sebuah sistem Islam yang menyatukan Dunia Islam di bawah satu kepemimpinan berlandaskan syariat Islam, juga berarti hilangnya Negara Islam yang-menurut Dr. Yusuf Qaradhawi-merupakan perwujudan dari ideologi Islam.
Karena itu, keruntuhan Khilafah Islam 82 tahun lalu, (3 Maret 1924 M) di Turki Khilafah Ustman yang antara lain akibat dari berbagai konspirasi jahat Barat imperialis dan Yahudi selama puluhan tahun terhadap Khilafah, sesungguhnya merupakan tragedi terbesar yang belum pernah dialami oleh kaum Muslim sebelumnya. Bagaimana tidak?! Khilafahlah yang selama 13 abad (632-1924 M)-jika dihitung dari masa Khulafaur Rasyidin, Khilafah Bani Umayah, Khilafah Bani Abbasiyah hingga Khilafah Utsmaniyah-menjadi institusi pelayan dan pelindung umat manusia, yang wilayah kekuasaannya pernah meliputi hampir 2/3 bagian dunia, dengan berbagai kesuksesannya di berbagai bidang kehidupan.

Kendati pun pada masa kepemimpinan Umayyah, Abbasiyah mapun bani Ustaminyah terdapat kekurangan, satu hal yang tak terbantahkan adalah pada masa itu kaum muslimin tetap berada dalam satu payung Daulah sehingga segala urusan ummat tetap tertangani dalam khajanah sistem Islam yang mulia.
Arti pentingnya sebuah kepemimpinan umat Islam dalam supremasi Daulah Khilafah merupakan keniscayaan sebagaimana telah ter-syari’atkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Saw. Bahkan jumhur ‘ulama pun telah menyepakati arti pentingnya Daulah ini yang akan menjamin keberlangsungan kehidupan Islam secara sempurna….


Responses

  1. https://ruangpelangi.wordpress.com/2011/06/27/din-agama-atau-daulah/#comment-form-load-service:Facebook

  2. Pengertian din kurang pas, din itu bermakna PERATURAN, ATURAN, HUKUM Islam bermakna TUNDUK, PATUH. Jadi kalau Muslim itu TASLIM terhadap DINUL ISLAM.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: